Papua Harus "Swadeshi"

oleh a West Papuan citizen

Kemerdekaan politik saja tidak cukup. Perjuangan Papua hanya akan sukses kalau seluruh rakyat Papua bersatu padu. Hal yang bisa menyatukan rakyat adalah kalau mereka memiliki perasaan senasib dan sepenanggungan, memiliki kepentingan yang sama, dan perspektif yang sama terhadap tujuan dari perjuangan.

Himbauan saya, kiranya para pemimpin dan tokoh intelektual Papua mau belajar dari Mahatma Gandhi tentang Prinsip-prinsip Utama Perlawanan Tanpa Kekerasan. Setelah itu meneruskannya ke tingkat akar rumput (grass root). Nelson Mandela (melawan politik apartheid di Afrika Selatan) dan Martin Luther King Junior (melawan diskriminasi rasial di USA), mereka belajar banyak tentang Gandhi. Mahatma Gandhi memulai SWADESHI dengan SUMPAH. Ia membakar seluruh baju importnya dan mengenakan pakaian yang dibuat atau ditenun oleh wanita-wanita India. Dari baju, lalu ke garam, selanjutnya ke hal-hal kecil lainnya. Semua ini nampak “sepele� tapi karena dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh India maka Inggris akhirnya kalah.

India berhasil merdeka tanpa kekerasan. Korban di pihak India dan Inggris hanya beberapa ribu jiwa (itupun karena ada yang mengabaikan prinsip perlawanan tanpa kekerasan yang diperjuangkan oleh GANDHI). Korban Algeria melawan Perancis hampir 900.000 jiwa karena mereka menggunakan kekerasan dalam perjuangan kemerdekaan. Hingga saat ini India-Inggris adalah sahabat karib (rekonsiliasi berhasil) sedangkan hubungan Algeria-Perancis terus-terusan panas-dingin.

SWADESHI

Bisa dimulai dari kekuatan yang ada di tangan rakyat Papua saat ini.

Swadeshi Makanan Pokok: Mari kita meninggalkan beras dan kembali ke sagu, dan umbi-umbian. Akan ada ratusan milyar rupiah yang bisa ditahan agar tidak mengalir ke Jawa, dana sebanyak itu bisa dipakai oleh bangsa Papua untuk membiayai pendidikan dan kesehatan anak-anak Papua. Jadi sagu bukanlah sekedar kebiasaan makan (eating habit), itu bisa dijadikan sebagai alat perjuangan (silahkan baca tulisan berjudul RASKIN di www.westpapua.ca). Ketergantungan terhadap beras sama dengan ketergantungan terhadap transmigran. Setelah merdeka dari beras, kita harus menanjak lagi ke anak tangga independensi berikutnya.

Swadeshi Keperluan Dapur: Setiap tahun orang Papua mengonsumsi ribuan ton garam dari Madura. Kalau anda pernah berlayar melewati Selat Madura, airnya nampak berwarna coklat kehitam-hitaman, penuh limbah industri (dari sinilah garam yang anda santap tersebut dihasilkan). Ribuan kilometer pantai Papua memiliki air laut yang jernih dan bebas polusi. Sayang sekali, tak satu jengkalpun yang digunakan untuk menghasilkan garam. Rakyat Papua harus memproduksi garam sendiri, gula merah sendiri, kopi sendiri, dan hal-hal kecil lainnya.

Swadeshi Tas: Tinggalkan tas-tas kulit dan plastik buatan Bandung dan Tanggulangin (tempat meluapnya lumpur Lapindo Brantas). Papua harus kembali memakai NOKEN. Kalau ratusan ribu pelajar, karyawan, pegawai dan kaum intelektual kembali menggunakan NOKEN atau tas anyaman yang terbuat dari daun tikar buatan 100% mama-mama Papua maka akan ada dana ratusan juta hingga milyaran rupiah yang bisa ditahan oleh orang Papua agar tidak mengalir ke Jawa demi membiayai keperluan sehari-hari bangsa Papua sendiri.

Swadeshi Tekstil: Saat Belanda berkuasa, upaya-upaya memandirikan bangsa Papua di bidang tekstil telah dilaksanakan. Suster-suster Katolik telah memperkenalkan teknik memintal benang dari bulu biri-biri di kawasan Pegunungan Tengah. Gereja Katolik (di kawasan kepala burung) bahkan pernah mengirim mama-mama Papua sampai ke Timor guna berlatih menenun kain. Hasilnya mereka saat itu mampu membuat kain Timor yang ditenun sendiri. Hal ini hanya berlangsung hingga akhir tahun 1980an. Sekarang ketrampilan itu hilang begitu saja. Rakyat Papua harus bangkit lagi membuat tekstil sendiri. Swadeshi tekstil bukanlah hal yang mudah. Tapi kalau ada kemauan pasti ada jalan.

Swadeshi di bidang Sumber Daya Manusia (SDM)

Kita keliru kalau SDM harus diartikan bahwa semua orang Papua harus menjadi sarjana, master, doktor atau profesor. Tukang jahit adalah SDM, tukang bakso itu SDM, tukang cukur rambut = SDM, tukang tambal ban pun SDM, Paitua Yohanes yang sedang menokok sagu di hutan Babo juga SDM, Mama Bonay yang sedang mencangkul dan menanam keladi di Arso termasuk SDM, mahasiwa Jakobus Mandacan yang bekerja narik ojek di Amban Manokwari juga SDM dan lain-lain.

Dan masih banyak lagi berbagai bidang kehidupan masyarakat Papua yang memerlukan penerapan SWADESHI.

Bagaimana cara memulai SWADESHI?

- Mulailah dari diri kita sendiri
- Mulailah dari hal-hal yang kecil
- Mulailah sekarang juga.

Janganlah kita memandang sebelah mata si kurus kerempeng Tuan Mahatma Gandhi. Walaupun hanya kulitnya saja yang membungkus tulang (dikarenakan oleh doa-puasa), swadeshi-nya sampai saat ini tetap bertahan di India. Bloomberg, sebuah jaringan televisi bisnis global, telah memprediksikan bahwa antara tahun 2020 dan 2050 kekuatan ekonomi India akan menyamai bahkan melampaui ekonomi Amerika Serikat lewat komitmen rakyat menjalankan swadeshi. Bagaimana dengan Papua?